Sabtu, 25 Maret 2017

PHRI: Wisman Eropa Minati Nyepi di Bali

| 466 Views
id Wisman Minati Nyepi, hari raya nyepi, PHRI Bali,
Denpasar (Antara Bali) - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali mengatakan wisatawan mancanegara dari benua Eropa meminati Hari Raya Nyepi karena dilaksanakan sehari penuh hanya di Pulau Dewata dan satu-satunya di dunia.

"Wisatawan dari Eropa umumnya sangat suka dengan Nyepi karena ini merupakan daya tarik satu-satunya di dunia," kata Ketua PHRI Bali Cokorda Oka Artha Ardana Sukawati di Denpasar, Selasa.

Meski demikian, jumlahnya tidak begitu signifikan mengingat Nyepi bukan merupakan paket wisata.

Padahal, apabila wisatawan yang menginap di hotel diberikan pemahaman bahwa saat Nyepi merupakan waktu untuk melakukan kontempelasi atau perenungan, tidak bersenang-senang atau hura-hura, tidak bepergian dan tidak menyalakan listrik, maka menjadi daya tarik.

Pria yang akbrab disapa Cok Ace itu mengatakan diprediksi terjadi kenaikan hotel tetapi tidak begitu besar yakni sekitar lima persen.

Sebagian besar tamu yang menginap merupakan penduduk pendatang dan lebih banyak menyasar penginapan yang dikelola masyarakat atau "homestay di kawasan Ubud agar lebih dekat dengan kehidupan perdesaan.

Dengan begitu, Nyepi akan memberikan edukasi kepada wisatawan sesuai dengan tren pariwisata saat ini yang berdasarkan pengetahuan atau "knowledge based tourism".

Senada dengan Cok Ace, Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Bali Ketut Ardana mengatakan selain Eropa, wisatawan dari Amerika Serikat dan Australia sangat meminati Hari Raya Nyepi karena budaya yang hanya ada di Pulau Dewata.

"Pasti tertarik ada banyak hal yang menarik bisa dilihat dan dinikmati wisatawan," ucapnya.

Pihaknya telah menginformasikan hal tersebut kepada partner baik di dalam maupun luar negeri terkait Hari Raya Nyepi.

Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1939 jatuh pada 28 Maret 2017.

Jika tahun baru biasanya dirayakan dengan gegap gempita, namun umat Hindu merayakannya dengan suasana sepi melalui empat pantangan yakni "amati karya" atau tidak bekerja, "amati lelanguan" atau tidak bersenang-senang, "amati geni" atau tidak menyalakan api (cahaya) atau listrik dan "amati lelungaan" atau tidak bepergian. (WDY)

Editor: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2017