Minggu, 20 Agustus 2017

Wagub Sudikerta Minta Umat Tak Sekadar "Beryadnya"

| 358 Views
id yadnya, ritual Pujawali, pujawali Ngusaba, Pura Dalem Tatag, buah lokal, pemprov bali
Wagub Sudikerta Minta Umat Tak Sekadar
Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta saat menghadiri ritual Pujawali Ngusaba di Pura Dalem Tatag, Desa Taro, Gianyar. (Humas Pemprov Bali)
Gianyar (Antara Bali) - Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta meminta umat Hindu tidak sekadar "beryadnya" atau menghaturkan persembahan, namun hendaknya menjadi satu kesatuan utuh dari seluruh aktivitas keagamaan.

"Kualitas yadnya dan keagungannya bukan terletak pada besarnya persembahan, melainkan terletak pada niat suci dan ketulusan hati dari orang yang membuat yadnya," kata Sudikerta saat menghadiri ritual Pujawali Ngusaba di Pura Dalem Tatag, Desa Taro, Gianyar, Rabu.

Selain itu, umat diharapkan untuk terus meningkatkan bakti kepada Ida Hyang Widhi Wasa (Tuhan) sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang telah diberikan selama ini.

Menurut dia, sebagai umat manusia jangan hanya meminta sesuatu ataupun berdoa semata tanpa dibarengi dengan persembahan yadnya. Namun, janganlah melaksanakan yadnya secara asal-asalan sekadar beryadnya.

"Kita jangan hanya meminta ini itu kepada Tuhan, tetapi kita malah tidak pernah melaksanakan yadnya atau sembahyang. `Kan percuma juga, jadi harus diseimbangkan," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, dia juga menyinggung penggunaan buah lokal pada sarana "gebogan" atau sarana upakara lainnya. Ia mengharapkan masyarakat dapat memanfaatkan buah lokal. Hal ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam melestarikan buah lokal.

"Saya juga mengajak masyarakat agar dalam pelaksanaan yadnya sarana yang dipergunakan hendaknya merupakan hasil dari isi bumi sendiri seperti buah-buahan lokal seperti pisang, jeruk, salak, manggis, jambu dan buah lokal lainnya. Jangan semuanya buah impor," ucap Sudikerta.

Persembahan dengan menggunakan buah lokal, lanjut dia, merupakan wujud terima kasih kehadapan Tuhan atas segala berkah dan rahmat yang telah dilimpahkan.

"Selain itu, banyak juga kita lihat umat membuat gebogan tidak hanya menggunakan buah impor, tetapi juga minuman kaleng, jelas ini sangat tidak bagus dan tidak cocok sebagai persembahan," katanya.

Penggunaan buah lokal selain bertujuan untuk membangkitkan motivasi petani Bali dalam memproduksi buah lokal, juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas buah dan meningkatkan sirkulasi pertumbuhan ekonomi di Bali. (WDY)

Editor: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga